“Kados sangsam kang kasatan,
Denya ngorong mring toya;
Nggih makaten duh, Pangeran...
Pangoronging tyas kula..!”
..................................................
(S’perti rusa yang haus,
Mencari sungai yang berair;
Demikianlah Ya, Tuhan...
Begitu haus jiwaku akan Engkau..!)
....................................................
Demikianlah bait
pertama dari syair lagu Kidung Pasamuan Jawi (Kidung Pujian Bahasa Jawa) tersadur
dari kitab sang pemazmur pasal 42 yang Mas Hanang ajarkan padaku saat malam
hari di Perumahan RSS Sehati blok C. no: 58. Hingga kini masih lekat di ingatan
nada lagu itu, dengan jelas kudapat nyanyikan. Dengan petikan gitar yang penuh
penghayatan Mas Hanang menyanyi. Untuk waktu yang cukup lama aku tidur sekamar
dengan Mas Hanang tetapi beda kasur. Aku tidur diatas ranjang kayu besar yang
sebenarnya cukup untuk dua orang tetapi Mas Hanang memilih tidur di kasur diatas
lantai tanpa ranjang agar dia bisa menaruh sekat dari kain sebagai horden
pembatas. Sepasang paku ditancapkan di dinding dan dengan sebuah kain besar dan
panjang ia menjahit kain hordennya sendiri di seutas tali. Mengapa? Karena ia
mau menjadikan ruangan khusus di balik sekat horden itu sebagai “ruang maha
kudus” agar dia bisa menyendiri berdoa dan membaca Alkitab. Percaya atau tidak,
lebih dari sekali dua kali saya melihat dengan mata kepala saya sendiri Mas
Hanang duduk di kursi meja-belajarnya membaca Alkitab lebih dari dua jam dengan
bersuara layaknya orang membaca deklamasi puisi sastra. Setelah istirahat makan
dan minum Mas Hanang melanjutkan kembali pembacaanya yang begitu khusuk penuh
penghayatan. Dengan telingaku sendiri aku mendengarnya dia duduk membaca.
Sembari tiduran aku mendengarnya hingga aku tertidur pulas. Tak sengaja
tiba-tiba kira-kira jam 2 dini hari aku terjaga karena mimpi, ketika aku sadar
mengusap-usap mata, Mas Hanang masih khusuk membaca Alkitab. Kamar yang gelap,
hanya ada sorot lampu meja belajar Mas Hanang, suaranya memecah kesunyian malam
dimana setiap orang sedang nikmat terlelap. Aku cuma geleng-geleng kepala lalu
tidur lagi. Sadar atau tidak kini aku mengerti bahwa Tuhan memakai Mas Hanang
untuk menginspirasiku menjadi orang yang mencari kebenaran. Bukan cuma satu
kali saja Mas Hanang mengajakku pergi ke Gereja di gereja GKJ 55 depan UKSW.
Dia mengajakku datang KKR, mengikuti retret hingga membaca buku-buku rohani,
theology, majalah rohani, renungan harian, hingga apologetika. Kesan yang
kudapat dari dia adalah dengan serius menggali dan menggali untuk menemukan
harta karun kebenaran.
Waktu itu masih
kecil, belum sekolah, sekitar 4 atau 5 tahun umurku. Kuingat Mas Hanang paling
jago menembak. Bersama beberapa temannya Mas Hanang keliling kampung dan kebun
menembak burung. Sering ikut dengan rombongan mereka, tugasku membawa seutas
tali rafia panjang. Ketika ada burung jatuh tertembak, tugasku segera berlari,
mencari, mengambil burung itu, mengikat kakinya pada tali. Ketika sore hari
menjelang maghrib tali panjang itu penuh dengan burung-burung yang kakinya
rapat terikat. Sampai-sampai aku harus
mengalungkannya pada leher, mengitarkan pada pinggang dan memegangnya dengan
kedua tangan sisanya. Setelah mereka pulang mandi, berkumpul lagi di dapur
rumahku untuk mengolah burung-burung tadi. Direndam air panas dan dicabuti
bulunya, dibumbui dengan garam, bawang putih dan lada ketumbar putih dan
kemudian digoreng. Ramai-ramai bersama teman-teman menikmati renyahnya daging
burung-burung goreng sambil bermain kartu, monopoli dan karambol. Mas Hanang
tidak pelit membagi hasil buruannya agar teman-teman ramai menikmati. Banyak
teman-teman berkumpul di teras rumah Jalan Pramuka no: 17 kampung Krajan, Kelurahan
Salatiga, rumah papan kontrakan sederhana milik almarhum Bapak Wardoyo dengan
halaman luas di bawah pohon kelengkeng besar dekat kantor kelurahan yang
sekarang telah direnovasi menjadi tempat kursus. Disitu saya mengenang kesan
indah dari pelajaran kehidupan sederhana bahwa hidup itu indah bila kita mau
berbagi dan memiliki banyak teman. Ya! Memiliki banyak teman! Saya tidak pernah
mungkin bisa hidup di perantauan di Bali maupun di Maluku Utara seandainya
Tuhan tidak memberikan kakak yang menabur benih mentalitas untuk menghargai
pentingnya “berteman” dan “berbagi.”
Waktu itu kelas 6 SD. Aku ikut
lomba siswa teladan, ada kurang lebih 100 siswa yang berkompetisi; mereka
masing-masing adalah anak-anak paling pintar dari sekolah-sekolah dasar se kota Salatiga. Merasa grogi dan minder tentunya! Malam sebelum final, dengan gitar
Mas Hanang mengajakku berdoa, malam itu kami menyanyi sebuah lagu: “Berserah
kepada Yesus tubuh roh dan jiwaku...” Malam itu kami menyanyi,
menyanyi dan menyanyi dengan sangat khusuk. Hatiku hancur terharu. Entah kenapa
aku menangis. Satu hal, Tuhan memakai Mas Hanang menabur benih lapar dan haus
akan Tuhan di hatiku. Malam itu aku merasakan indahnya berdoa di Hadirat Tuhan.
Kemudian aku tidur dengan hati yang begitu damai, tanpa peduli lagi, tanpa
khawatir apakah besok aku menang ataukah tersingkir dari kompetisi siswa
teladan tersebut. Aku tidur lelap setelah lama menangis di dalam doa bersama
Mas Hanang. Tanpa beban aku mengikuti kompetisi hari kedua setelah hari pertama
menjalani test tertulis ujian SD rasa SMP. Kujalani semuanya dengan tenang: praktek
elektronika membuat bel 10 nada, menari adat Jawa-Tengah “Perang-Perangan” (setelah dikarbit 5 hari), menyanyi lagu nasional
dan lagu pilihan bebas, test wawancara (dengan dicecar banyak pertanyaan), menyanyo lagi nasional dan
test bermain musik (keyboard, lagu
sederhana tentunya). Sore hari tanpa dag
dig dug sedikitpun entah kenapa hatiku begitu ikhlas tanpa beban mengakhiri
kompetisi hari kedua yang sangat padat itu padahal hari itu aku sempat membuat
sebuah kesalahan fatal ketika praktek elektronika membuat rangkaian bel 10 nada
sehingga lampu seluruh ruangan test mati karena aku menyebabkan konslet!
Kesalahan yang mungkin saja bisa mendapat sanksi pinalty. Esok harinya kami
hadir untuk mendengarkan hasil keputusan dewan juri setelah mengakumulasi
seluruh perolehan nilai dari test keseluruhan. Aku keluar sebagai Juara
Pertama! Yiiihhuuuwww....yyeeeehhoo..yiiihhaah..! Aku menerima hadiah langsung
dari walikota saat upacara bendera di halaman kantor dinas walikota Salatiga
berupa piala, piagam dan uang. Aku mengucap syukur pada Tuhan karena Mas Hanang
mengajariku pentingnya “berdoa dan bekerja.” Aku tidak pernah menduga aku akan
keluar sebagai juara mengingat ketatnya seleksi dan banyaknya ragam test dan
banyaknya jumlah peserta yang berkompetisi tetapi Mas Hanang menabur benih di
hatiku bahwa doa orang yang percaya besar kuasanya.
Dibalik sifatnya yang keras Mas
Hanang punya sifat melatih dan mendidik. Kira-kira aku masih kelas 2 sampai 3
SD setiap jam setengah 4 pagi dia membangunkanku. Tentu aku merasa malas dan
berat hati! Tapi mana berani aku melawan Mas Hanang? Kepalan tangannya keras,
kepalan tangan master Kungfu! Waktu itu kurang lebih tahun 1992 dan 1993,
Salatiga masih berhawa pegunungan dan belum panas seperti sekarang! Di tengah
hawa dingin Salatiga kala itu Mas Hanang “memaksa” jogging pagi menemani dia
kurang lebih satu jam hingga jam setengah 5. Rute yang paling sering dilewati
adalah keluar jalan Pramuka lalu turun jalan Patimura, menuruni Pasar Sayangan,
Dhomas, Mbulu/ Mbugel hingga dekat Pabelan (itu jalan menurun); kemudian balik
lagi pulang (jalannya nanjak!) atau melewati jalan Patimura, bundaran Kaloka,
Diponegoro, melewati Kantor Pos (itu menurun) menuju lapangan Pancasila dan
berputar-putar di lapangan Pancasila entah berapa kali lalu pulang lagi lewat
Kantor Pos (nanjak!). Lalu Mas Hanang melatih aku kungfu Jet-Kun-Do, sejenis
aliran bela diri yang dikembangkan Bruce Lee dari dasar-dasar Winchun seperti
di film Ipman. Mas Hanang biasanya melatih banyak murid yang belajar ilmu
bela-diri JetKunDo kadang di gedung GPD (Gedung Pertemuan Daerah), di AMA atau
di UKSW; nah sebelum melatih banyak orang dia melatihku di pagi hari sebagai
“micro teaching” agar lebih siap melatih banyak orang sore harinya. Setelah
jogging satu jam, berlatih kungfu 1 jam, aku bersiap-siap mandi, makan lalu
berangkat sekolah. Sungguh melelahkan! Tetapi hasil didikan Mas Hanang
mendatangkan manfaat positif bagiku. Dari SD sampai lulus kuliah aku belum
pernah dirawat di Rumah Sakit, Halleluya! Puji TUHAN! Aku bersyukur Tuhan
menganugrahi aku berkat kesehatan lewat kegemaran berolahraga yang Mas Hanang
tularkan sehingga aku punya nafas yang cukup panjang, punya stamina yang cukup
untuk bermain sepak-bola lapangan besar bermain full-time sebagai gelandang
yang musti maju-mundur naik turun membantu bertahan dan menyerang, mendaki
gunung dan bermain basket. Ada berkat dibalik didikannya yang keras. Juga masih
kuingat jelas sehari sebelum Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional---
sekarang UN) kelas 6 SD aku bermain sepak-bola dengan teman-teman sekampung
disawah yang kami permak jadi lapangan hingga lewat jam 6 petang. Aku pulang
sekitar jam 6 lebih seperempat saat sudah sangat gelap dan bola sudah tidak
kelihatan lagi (tidak seperti di Indonesia Timur yang masih terang hingga
hampir jam 7 malam, di Jawa Tengah jam 6 lebih itu matahari sudah terbenam
sepenuhnya). Waktu masuk pintu rumah:
“Sesok
ki kowe Ebtanas, ngerti rak?!!!” (Besok itu kamu ujian Ebtanas tau nggak?!!!”)
“Plak..!!!”,
telapak tangan kanan Sang Guru Kungfu mendarat di
pelipis kiri. Kepala pusing terputar-putar, mata berkunang-kunang, nyaris
pingsan! Tangan itu biasa memukul bambu keras hingga patah dan biasa memecah
batu-bata saat latihan. Setelah tiduran agak lama meringis sakit. Aku bangun
menaati instruksi kakak nomor dua ini untuk belajar hingga lewat larut malam
setelah minum kopi kental manis! Setelah keluar pengumuman hasil Ebtanas aku
meraih juara pertama dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi. Aku mendapat
piagam sebagai peraih NEM tertinggi sesekolahan, segugus dan serayon! Setelah
itu aku mendaftar masuk SMP Negeri 1 Salatiga—favorit dan terbaik di kota
Salatiga. Dari sekitar 400 anak yang mendaftar hanya 240 yang diterima (6 kelas
x @40 siswa) nomor pendaftaranku berada di urutan rangking satu, --paling atas di jurnal daftar penerimaan siswa baru—karena perolehan nilai berdasarkan hasil
NEM ditambah kredit point dari piagam penghargaan. Itu semua tak lepas dari
support dan didikan Mas Hanang. Aku ingat Mas Hanang mengingatkanku untuk
belajar, ikut bersama guru pembimbing dari sekolahan mendampingiku ikut lomba
siswa teladan, membawaku ke Mas Gerson Sigilipoe pianis organ GKJ 55 agar
mengajariku bermain keyboard), mengikatkan lilitan tali tongkat pramukaku lain
dari kawan-kawan yang lain dengan motif rantai-rantai ganda yang kuat dan rapi,
melipatkan kain hasduk merah-putih untuk dasi di leher seragam pramuka, merapikan
caraku memakai baret pramuka agar tampak mirip kopasus hahahaey..., membetulkan
caraku memasukkan pakaian seragam ke celana, mengikatkan tali-sepatu dan masih
banyak lagi. Hanya orang yang mengasihi kitalah yang sempat memperhatikan
hal-hal kecil dalam hidup kita sebab mereka perduli untuk memperhatikan hidup
kita hingga mendetail. Dibalik gayanya yang keras aku melihat kasih-sayang.
Satu hal lain
yang aku belajar dari Mas Hanang adalah mengayomi yang lebih lemah. Sore itu
aku bermain di lapangan bersama teman-teman di kampung. Ada beberapa anak
seusia SMP dan SMA yang mempermainkan dan mengeroyok aku yang masih anak SD
hingga aku menangis. Aku pulang sambil menangis. Mas Hanang melihat aku
menangis, dia bertanya:
“Sapa
sing marakke kowe nangis?” (Siapa yang buat kamu menangis?) Lalu kuceritakan bahwa anak-anak yang lebih besar mengeroyokku. Tanpa
bicara sepatah kata, Mas Hanang bergegas ke lapangan hanya dengan celana kolor
dan kaos dalam singlet. Aku membuntuti dibelakangnya.
“Sapa
sing nggarai adhiku nangis??!!” (Siapa yang bikin adekku menangis??!!) Kakakku bentak keras. Tidak ada satupun yang berani menyahut. Satu
persatu dapat lap! Satu orang satu pukulan mereka tumbang ke tanah satu persatu
sampai ampun-ampun. Aku tersenyum sambil berkacak pinggang melihat pembalasan
bagiku dari Mas Hanang. Esok siang hari ketika aku pulang sekolah mereka
berpapasan denganku:
”Met
siang Ung...” Sapa mereka dengan penuh sopan merendah
karena takut dapat hajar dari kakakku lagi hihihi.... Aku tak menjawab. Hanya
senyum simpul kemenangan. Setidaknya aku merasa bangga punya kakak yang
mengayomiku sehingga aku merasa aman. Beberapa tahun kemudian, aku punya seorang
teman bernama Iwan. Orangnya kecil, lemah, kurus dan penakut. Ada satu orang
kawan lain bernama Gunawan yang suka mengejek dan menghina Iwan. Iwan
tersinggung karena Gunawan mengejek katanya Iwan hanya memanfaatkan kebaikan
hati Ci’ung. Iwan takut. Aku datangi Gunawan. Aku pukul keras dengan salah-satu
jurus yang pernah diajarkan Mas Hanang. Alamak! Giginya copot satu! Bibirnya
berdarah. Setidaknya aku belajar mengayomi yang lemah. Kini aku sudah dewasa
dan tahu bahwa Tuhan tidak suka cara kekerasan, tapi untuk seorang Ci’ung kecil
setidaknya cukuplah belajar arti keberanian dan mengayomi yang lebih lemah
seperti yang Mas Hanang pernah lakukan padaku.
Dari Mas Hanang aku juga belajar untuk
menghormati hubungan keluarga dan silaturahmi. Waktu liburan, Mas Hanang pernah
mengajakku pergi ke Desa Sawit, Kecamatan Mbanyurip, Kabupaten Purworejo;
kampung dimana aku dilahirkan sebelum aku diboyong ke Salatiga pada usia 17
bulan. Mas Hanang mengenalkanku pada Pakdhe, Budhe, Paklik, Bulik, Sepupu dan
saudara-saudara jauh dari kakek-nenek buyut. Mas Hanang menceritakan silsilah
dan kisah-kisah ketika kakek nenek masih muda. Mas Hanang mengenal baik
keluarga besar kami dan terus berusaha menjaga silaturahmi.
Kamis,
6 November setelah menghadiri pernikahan adik bungsu laki-laki terkasih Herling
Sasmito, aku telah sampai kembali di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara
tempatku merantau dan berkarya. Aku begitu terkejut mendengar kabar meninggalnya Mas Hanang,
begitu tiba-tiba sekali. Mas Hanang meninggal ketika kami tidak sedang
di sisinya karena kami tidak sedang bersamanya, dia sedang menjalani perawatan
rehabilitasi mental di Solo. Dia pasti merasa kesepian, bagaikan rusa yang haus
yang merindukan aliran air; demikianlah pula Mas Hanang pasti haus akan cinta
kasih, perhatian dan kasih sayang. Tuhan adalah saksi betapa aku menangis
dengan hati hancur. Tetapi aku bersyukur, aku yakin Mas Hanang sekarang sudah
berada di Surga, di tempat yang sudah tiada lagi air mata. Bukan di tempat yang
tandus dengan sungai kering tiada berair. Aku percaya dia berada bersama
Kristus Sang Gembala jiwanya, Sang Gembala Agung yang membaringkan dia di
padang yang berumput hijau, di tempat yang penuh dengan taman indah dan alirai
sungai yang sejuk dan tenang. Sebab Tuhan Yesus telah melihat kerinduan hati
Mas Hanang akan kebenaran, Dia berjanji: “Berbahagialah
mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Injil
Matius 5:6). Aku yakin dan percaya Mas Hanang akan puas, bahagia, senang
dan puas disana sebab ia memiliki hati yang lapar dan haus akan kebenaran.
Nampak dari pengejarannya akan Firman dan ternyatakan ketika ia melantunkan
kerinduan hatinya yang terdalam:
“Kados sangsam kang kasatan,
Denya ngorong mring toya;
Nggih makaten duh, Pangeran...
Pangoronging tyas kula..!”




Tidak ada komentar:
Posting Komentar