Selasa, 22 November 2016

“Kados Sangsam Kang Kasatan”


“Kados sangsam kang kasatan,
Denya ngorong mring toya;
Nggih makaten duh, Pangeran...
Pangoronging tyas kula..!”
..................................................
(S’perti rusa yang haus,
Mencari sungai yang berair;
Demikianlah Ya, Tuhan...
Begitu haus jiwaku akan Engkau..!)
....................................................
Demikianlah bait pertama dari syair lagu Kidung Pasamuan Jawi (Kidung Pujian Bahasa Jawa) tersadur dari kitab sang pemazmur pasal 42 yang Mas Hanang ajarkan padaku saat malam hari di Perumahan RSS Sehati blok C. no: 58. Hingga kini masih lekat di ingatan nada lagu itu, dengan jelas kudapat nyanyikan. Dengan petikan gitar yang penuh penghayatan Mas Hanang menyanyi. Untuk waktu yang cukup lama aku tidur sekamar dengan Mas Hanang tetapi beda kasur. Aku tidur diatas ranjang kayu besar yang sebenarnya cukup untuk dua orang tetapi Mas Hanang memilih tidur di kasur diatas lantai tanpa ranjang agar dia bisa menaruh sekat dari kain sebagai horden pembatas. Sepasang paku ditancapkan di dinding dan dengan sebuah kain besar dan panjang ia menjahit kain hordennya sendiri di seutas tali. Mengapa? Karena ia mau menjadikan ruangan khusus di balik sekat horden itu sebagai “ruang maha kudus” agar dia bisa menyendiri berdoa dan membaca Alkitab. Percaya atau tidak, lebih dari sekali dua kali saya melihat dengan mata kepala saya sendiri Mas Hanang duduk di kursi meja-belajarnya membaca Alkitab lebih dari dua jam dengan bersuara layaknya orang membaca deklamasi puisi sastra. Setelah istirahat makan dan minum Mas Hanang melanjutkan kembali pembacaanya yang begitu khusuk penuh penghayatan. Dengan telingaku sendiri aku mendengarnya dia duduk membaca. Sembari tiduran aku mendengarnya hingga aku tertidur pulas. Tak sengaja tiba-tiba kira-kira jam 2 dini hari aku terjaga karena mimpi, ketika aku sadar mengusap-usap mata, Mas Hanang masih khusuk membaca Alkitab. Kamar yang gelap, hanya ada sorot lampu meja belajar Mas Hanang, suaranya memecah kesunyian malam dimana setiap orang sedang nikmat terlelap. Aku cuma geleng-geleng kepala lalu tidur lagi. Sadar atau tidak kini aku mengerti bahwa Tuhan memakai Mas Hanang untuk menginspirasiku menjadi orang yang mencari kebenaran. Bukan cuma satu kali saja Mas Hanang mengajakku pergi ke Gereja di gereja GKJ 55 depan UKSW. Dia mengajakku datang KKR, mengikuti retret hingga membaca buku-buku rohani, theology, majalah rohani, renungan harian, hingga apologetika. Kesan yang kudapat dari dia adalah dengan serius menggali dan menggali untuk menemukan harta karun kebenaran.  
Waktu itu masih kecil, belum sekolah, sekitar 4 atau 5 tahun umurku. Kuingat Mas Hanang paling jago menembak. Bersama beberapa temannya Mas Hanang keliling kampung dan kebun menembak burung. Sering ikut dengan rombongan mereka, tugasku membawa seutas tali rafia panjang. Ketika ada burung jatuh tertembak, tugasku segera berlari, mencari, mengambil burung itu, mengikat kakinya pada tali. Ketika sore hari menjelang maghrib tali panjang itu penuh dengan burung-burung yang kakinya rapat terikat. Sampai-sampai aku  harus mengalungkannya pada leher, mengitarkan pada pinggang dan memegangnya dengan kedua tangan sisanya. Setelah mereka pulang mandi, berkumpul lagi di dapur rumahku untuk mengolah burung-burung tadi. Direndam air panas dan dicabuti bulunya, dibumbui dengan garam, bawang putih dan lada ketumbar putih dan kemudian digoreng. Ramai-ramai bersama teman-teman menikmati renyahnya daging burung-burung goreng sambil bermain kartu, monopoli dan karambol. Mas Hanang tidak pelit membagi hasil buruannya agar teman-teman ramai menikmati. Banyak teman-teman berkumpul di teras rumah Jalan Pramuka no: 17 kampung Krajan, Kelurahan Salatiga, rumah papan kontrakan sederhana milik almarhum Bapak Wardoyo dengan halaman luas di bawah pohon kelengkeng besar dekat kantor kelurahan yang sekarang telah direnovasi menjadi tempat kursus. Disitu saya mengenang kesan indah dari pelajaran kehidupan sederhana bahwa hidup itu indah bila kita mau berbagi dan memiliki banyak teman. Ya! Memiliki banyak teman! Saya tidak pernah mungkin bisa hidup di perantauan di Bali maupun di Maluku Utara seandainya Tuhan tidak memberikan kakak yang menabur benih mentalitas untuk menghargai pentingnya “berteman” dan “berbagi.”
                        Waktu itu kelas 6 SD. Aku ikut lomba siswa teladan, ada kurang lebih 100 siswa yang berkompetisi; mereka masing-masing adalah anak-anak paling pintar dari sekolah-sekolah dasar se kota Salatiga. Merasa grogi dan minder tentunya! Malam sebelum final, dengan gitar Mas Hanang mengajakku berdoa, malam itu kami menyanyi sebuah lagu: “Berserah  kepada Yesus tubuh roh dan jiwaku...” Malam itu kami menyanyi, menyanyi dan menyanyi dengan sangat khusuk. Hatiku hancur terharu. Entah kenapa aku menangis. Satu hal, Tuhan memakai Mas Hanang menabur benih lapar dan haus akan Tuhan di hatiku. Malam itu aku merasakan indahnya berdoa di Hadirat Tuhan. Kemudian aku tidur dengan hati yang begitu damai, tanpa peduli lagi, tanpa khawatir apakah besok aku menang ataukah tersingkir dari kompetisi siswa teladan tersebut. Aku tidur lelap setelah lama menangis di dalam doa bersama Mas Hanang. Tanpa beban aku mengikuti kompetisi hari kedua setelah hari pertama menjalani test tertulis ujian SD rasa SMP. Kujalani semuanya dengan tenang: praktek elektronika membuat bel 10 nada, menari adat Jawa-Tengah “Perang-Perangan” (setelah dikarbit 5 hari), menyanyi lagu nasional dan lagu pilihan bebas, test wawancara (dengan dicecar banyak pertanyaan), menyanyo lagi nasional dan test bermain musik (keyboard, lagu sederhana tentunya). Sore hari tanpa dag dig dug sedikitpun entah kenapa hatiku begitu ikhlas tanpa beban mengakhiri kompetisi hari kedua yang sangat padat itu padahal hari itu aku sempat membuat sebuah kesalahan fatal ketika praktek elektronika membuat rangkaian bel 10 nada sehingga lampu seluruh ruangan test mati karena aku menyebabkan konslet! Kesalahan yang mungkin saja bisa mendapat sanksi pinalty. Esok harinya kami hadir untuk mendengarkan hasil keputusan dewan juri setelah mengakumulasi seluruh perolehan nilai dari test keseluruhan. Aku keluar sebagai Juara Pertama! Yiiihhuuuwww....yyeeeehhoo..yiiihhaah..! Aku menerima hadiah langsung dari walikota saat upacara bendera di halaman kantor dinas walikota Salatiga berupa piala, piagam dan uang. Aku mengucap syukur pada Tuhan karena Mas Hanang mengajariku pentingnya “berdoa dan bekerja.” Aku tidak pernah menduga aku akan keluar sebagai juara mengingat ketatnya seleksi dan banyaknya ragam test dan banyaknya jumlah peserta yang berkompetisi tetapi Mas Hanang menabur benih di hatiku bahwa doa orang yang percaya besar kuasanya.       
                        Dibalik sifatnya yang keras Mas Hanang punya sifat melatih dan mendidik. Kira-kira aku masih kelas 2 sampai 3 SD setiap jam setengah 4 pagi dia membangunkanku. Tentu aku merasa malas dan berat hati! Tapi mana berani aku melawan Mas Hanang? Kepalan tangannya keras, kepalan tangan master Kungfu! Waktu itu kurang lebih tahun 1992 dan 1993, Salatiga masih berhawa pegunungan dan belum panas seperti sekarang! Di tengah hawa dingin Salatiga kala itu Mas Hanang “memaksa” jogging pagi menemani dia kurang lebih satu jam hingga jam setengah 5. Rute yang paling sering dilewati adalah keluar jalan Pramuka lalu turun jalan Patimura, menuruni Pasar Sayangan, Dhomas, Mbulu/ Mbugel hingga dekat Pabelan (itu jalan menurun); kemudian balik lagi pulang (jalannya nanjak!) atau melewati jalan Patimura, bundaran Kaloka, Diponegoro, melewati Kantor Pos (itu menurun) menuju lapangan Pancasila dan berputar-putar di lapangan Pancasila entah berapa kali lalu pulang lagi lewat Kantor Pos (nanjak!). Lalu Mas Hanang melatih aku kungfu Jet-Kun-Do, sejenis aliran bela diri yang dikembangkan Bruce Lee dari dasar-dasar Winchun seperti di film Ipman. Mas Hanang biasanya melatih banyak murid yang belajar ilmu bela-diri JetKunDo kadang di gedung GPD (Gedung Pertemuan Daerah), di AMA atau di UKSW; nah sebelum melatih banyak orang dia melatihku di pagi hari sebagai “micro teaching” agar lebih siap melatih banyak orang sore harinya. Setelah jogging satu jam, berlatih kungfu 1 jam, aku bersiap-siap mandi, makan lalu berangkat sekolah. Sungguh melelahkan! Tetapi hasil didikan Mas Hanang mendatangkan manfaat positif bagiku. Dari SD sampai lulus kuliah aku belum pernah dirawat di Rumah Sakit, Halleluya! Puji TUHAN! Aku bersyukur Tuhan menganugrahi aku berkat kesehatan lewat kegemaran berolahraga yang Mas Hanang tularkan sehingga aku punya nafas yang cukup panjang, punya stamina yang cukup untuk bermain sepak-bola lapangan besar bermain full-time sebagai gelandang yang musti maju-mundur naik turun membantu bertahan dan menyerang, mendaki gunung dan bermain basket. Ada berkat dibalik didikannya yang keras. Juga masih kuingat jelas sehari sebelum Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional--- sekarang UN) kelas 6 SD aku bermain sepak-bola dengan teman-teman sekampung disawah yang kami permak jadi lapangan hingga lewat jam 6 petang. Aku pulang sekitar jam 6 lebih seperempat saat sudah sangat gelap dan bola sudah tidak kelihatan lagi (tidak seperti di Indonesia Timur yang masih terang hingga hampir jam 7 malam, di Jawa Tengah jam 6 lebih itu matahari sudah terbenam sepenuhnya). Waktu masuk pintu rumah:
“Sesok ki kowe Ebtanas, ngerti rak?!!!” (Besok itu kamu ujian Ebtanas tau nggak?!!!”)
“Plak..!!!”, telapak tangan kanan Sang Guru Kungfu mendarat di pelipis kiri. Kepala pusing terputar-putar, mata berkunang-kunang, nyaris pingsan! Tangan itu biasa memukul bambu keras hingga patah dan biasa memecah batu-bata saat latihan. Setelah tiduran agak lama meringis sakit. Aku bangun menaati instruksi kakak nomor dua ini untuk belajar hingga lewat larut malam setelah minum kopi kental manis! Setelah keluar pengumuman hasil Ebtanas aku meraih juara pertama dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi. Aku mendapat piagam sebagai peraih NEM tertinggi sesekolahan, segugus dan serayon! Setelah itu aku mendaftar masuk SMP Negeri 1 Salatiga—favorit dan terbaik di kota Salatiga. Dari sekitar 400 anak yang mendaftar hanya 240 yang diterima (6 kelas x @40 siswa) nomor pendaftaranku berada di urutan rangking satu, --paling atas di jurnal daftar penerimaan siswa baru—karena perolehan nilai berdasarkan hasil NEM ditambah kredit point dari piagam penghargaan. Itu semua tak lepas dari support dan didikan Mas Hanang. Aku ingat Mas Hanang mengingatkanku untuk belajar, ikut bersama guru pembimbing dari sekolahan mendampingiku ikut lomba siswa teladan, membawaku ke Mas Gerson Sigilipoe pianis organ GKJ 55 agar mengajariku bermain keyboard), mengikatkan lilitan tali tongkat pramukaku lain dari kawan-kawan yang lain dengan motif rantai-rantai ganda yang kuat dan rapi, melipatkan kain hasduk merah-putih untuk dasi di leher seragam pramuka, merapikan caraku memakai baret pramuka agar tampak mirip kopasus hahahaey..., membetulkan caraku memasukkan pakaian seragam ke celana, mengikatkan tali-sepatu dan masih banyak lagi. Hanya orang yang mengasihi kitalah yang sempat memperhatikan hal-hal kecil dalam hidup kita sebab mereka perduli untuk memperhatikan hidup kita hingga mendetail. Dibalik gayanya yang keras aku melihat kasih-sayang.
        Satu hal lain yang aku belajar dari Mas Hanang adalah mengayomi yang lebih lemah. Sore itu aku bermain di lapangan bersama teman-teman di kampung. Ada beberapa anak seusia SMP dan SMA yang mempermainkan dan mengeroyok aku yang masih anak SD hingga aku menangis. Aku pulang sambil menangis. Mas Hanang melihat aku menangis, dia bertanya:
“Sapa sing marakke kowe nangis?” (Siapa yang buat kamu menangis?) Lalu kuceritakan bahwa anak-anak yang lebih besar mengeroyokku. Tanpa bicara sepatah kata, Mas Hanang bergegas ke lapangan hanya dengan celana kolor dan kaos dalam singlet. Aku membuntuti dibelakangnya.
“Sapa sing nggarai adhiku nangis??!!” (Siapa yang bikin adekku menangis??!!) Kakakku bentak keras. Tidak ada satupun yang berani menyahut. Satu persatu dapat lap! Satu orang satu pukulan mereka tumbang ke tanah satu persatu sampai ampun-ampun. Aku tersenyum sambil berkacak pinggang melihat pembalasan bagiku dari Mas Hanang. Esok siang hari ketika aku pulang sekolah mereka berpapasan denganku:
”Met siang Ung...” Sapa mereka dengan penuh sopan merendah karena takut dapat hajar dari kakakku lagi hihihi.... Aku tak menjawab. Hanya senyum simpul kemenangan. Setidaknya aku merasa bangga punya kakak yang mengayomiku sehingga aku merasa aman. Beberapa tahun kemudian, aku punya seorang teman bernama Iwan. Orangnya kecil, lemah, kurus dan penakut. Ada satu orang kawan lain bernama Gunawan yang suka mengejek dan menghina Iwan. Iwan tersinggung karena Gunawan mengejek katanya Iwan hanya memanfaatkan kebaikan hati Ci’ung. Iwan takut. Aku datangi Gunawan. Aku pukul keras dengan salah-satu jurus yang pernah diajarkan Mas Hanang. Alamak! Giginya copot satu! Bibirnya berdarah. Setidaknya aku belajar mengayomi yang lemah. Kini aku sudah dewasa dan tahu bahwa Tuhan tidak suka cara kekerasan, tapi untuk seorang Ci’ung kecil setidaknya cukuplah belajar arti keberanian dan mengayomi yang lebih lemah seperti yang Mas Hanang pernah lakukan padaku.           
          Dari Mas Hanang aku juga belajar untuk menghormati hubungan keluarga dan silaturahmi. Waktu liburan, Mas Hanang pernah mengajakku pergi ke Desa Sawit, Kecamatan Mbanyurip, Kabupaten Purworejo; kampung dimana aku dilahirkan sebelum aku diboyong ke Salatiga pada usia 17 bulan. Mas Hanang mengenalkanku pada Pakdhe, Budhe, Paklik, Bulik, Sepupu dan saudara-saudara jauh dari kakek-nenek buyut. Mas Hanang menceritakan silsilah dan kisah-kisah ketika kakek nenek masih muda. Mas Hanang mengenal baik keluarga besar kami dan terus berusaha menjaga silaturahmi.
        Kamis, 6 November setelah menghadiri pernikahan adik bungsu laki-laki terkasih Herling Sasmito, aku telah sampai kembali di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara tempatku merantau dan berkarya. Aku begitu terkejut mendengar kabar meninggalnya Mas Hanang, begitu tiba-tiba sekali. Mas Hanang meninggal ketika kami tidak sedang di sisinya karena kami tidak sedang bersamanya, dia sedang menjalani perawatan rehabilitasi mental di Solo. Dia pasti merasa kesepian, bagaikan rusa yang haus yang merindukan aliran air; demikianlah pula Mas Hanang pasti haus akan cinta kasih, perhatian dan kasih sayang. Tuhan adalah saksi betapa aku menangis dengan hati hancur. Tetapi aku bersyukur, aku yakin Mas Hanang sekarang sudah berada di Surga, di tempat yang sudah tiada lagi air mata. Bukan di tempat yang tandus dengan sungai kering tiada berair. Aku percaya dia berada bersama Kristus Sang Gembala jiwanya, Sang Gembala Agung yang membaringkan dia di padang yang berumput hijau, di tempat yang penuh dengan taman indah dan alirai sungai yang sejuk dan tenang. Sebab Tuhan Yesus telah melihat kerinduan hati Mas Hanang akan kebenaran, Dia berjanji: “Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Injil Matius 5:6). Aku yakin dan percaya Mas Hanang akan puas, bahagia, senang dan puas disana sebab ia memiliki hati yang lapar dan haus akan kebenaran. Nampak dari pengejarannya akan Firman dan ternyatakan ketika ia melantunkan kerinduan hatinya yang terdalam:    
“Kados sangsam kang kasatan,
  Denya ngorong mring toya;
 Nggih makaten duh, Pangeran...
 Pangoronging tyas kula..!”